Kebiasaan Masyarakat Yang Terdapat Di Negara Jepang

Kebiasaan Masyarakat Yang Terdapat Di Negara Jepang – Jepang adalah salah satu negara maju di dunia saat ini. Berkat kemajuan negaranya, Jepang pada saat ini menjadi salah negara yang sangat diperhitungkan oleh negara lain. Kemajuan negara Jepang bisa kalian lihat dari berbagai industri besar yang dikuasai oleh Jepang. Mulai dari industri otomotif seperti Honda, Yamaha, dan juga Suzuki, serta berbagai industri elektronik adalah beberapa contoh capaian yang dimiliki oleh Jepang.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana Jepang dapat sedemikian maju dan sukses ?

Jawabannya adalah berkat pola hidup yang diterapkan oleh masyarakatnya. Berkat pola hidup dan kebiasaan yang baik itulah masyarakat Jepang mampu seperti sekarang dan mengalahkan berbagai negara lain dalam banyak hal. idnslot

Jika kalian ingin merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan juga oleh masyarakat Jepang sudah sebaiknya kalian mengubah kebiasaan hidup untuk menjadi yang lebih baik.

Berikut ini adalah pola hidup masyarakat Jepang yang dapat membantu kalian untuk sukses di masa depan.

Kebiasaan Masyarakat Negara Jepang

1. Tidak Berfoya-foya dan Hidup Hemat

Kebiasaan pertama yang dilakukan oleh masyarakat Jepang ialah dengan menjalankan pola hidup hemat dalam keseharianya. Dengan hidup hemat artinya kalian memiliki lebih banyak tambahan uang untuk kalian tabung dan investasikan untuk kebutuhan lain dimasa depan. Hal inilah yang sudah diterapkan dengan baik oleh masyarakat Jepang. Bahkan kebiasaan masyarakat yang ada di Jepang turut didukung oleh supermarket disana dengan adanya diskon setengah jam sebelum toko tersebut tutup.

2. Tidak Bergantung dan Hidup Mandiri

Orang Jepang pantang bergantung dengan orang lain selagi mereka mampu untuk melakukanya sendiri. Di Jepang anak-anak yang sudah lulus SMA dianggap sudah dewasa dan telah terbiasa tidak lagi meminta uang dengan orang tua mereka. Mereka bekerja mencari uang dengan mengandalkan kemampuannya sendiri.

3. Never Give Up, Terus Berjuang

Masyarakat Jepang adalah orang yang mempunyai semangat juang yang sangat besar untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini terbukti dengan kemampuan mereka menguasai berbagai negara di dunia, padahal Jepang hanya memiliki wilayah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan negara lain.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi ?

Semangat juang yang tinggi yang menjadikan mereka mampu menaklukan banyak wilayah dan menjadi negara yang kuat.

4. Malu Saat Melakukan Kesalahan

Budaya malu yang sangat kuat tertanam dalam masyarakat Jepang . Bahkan sebelum era modern Jepang pernah mengenal sebuah istilah yang dinamakan dengan Harakiri. Harakiri adalah ritual bunuh diri yang dilakukan jendral perang atau samurai yang gagal terhadap tugasnya dan tidak siap untuk menanggung malu.

Budaya ini terus mengakar sampai saat ini, tetapi bukan dengan cara bunuh diri seperti yang dilakukan masyarakat Jepang zaman dahulu. Dimana para pemimpin yang gagal atau pejabat yang ketahuan korupsi akan lebih memilih mengundurkan diri dibandingkan harus menanggung malu akibat perbuatannya.

5. Menjadi Tradisi dan Saling Menghormati

Ditengah segala modernitas yang dimiliki oleh Jepang pada saat ini, faktanya mereka masih sangat kuat menjaga tradisi dan tidak melupakannya. Masyarakat Jepang juga memiliki tradisi untuk meminta maaf saat mereka melakukan kesalahan terhadap orang lain tanpa harus diminta.

6. Kesetiaan

Sikap loyal atau setia dengan pimpinan adalah budaya Jepang yang sangat kental sampai saat ini. Sehingga sangat jarang kalian akan melihat orang Jepang berpindah-pindah pekerjaan seperti yang banyak dilakukan orang dinegara lain. Hal tersebut pula yang menjadikan sistem karir di Jepang berjalan sangat rapi.

7. Inovatif

Inovatif adalah kata yang sering kali kalian temui dari berbagai merek yang dikeluarkan oleh Jepang. Mulai dari sepeda motor, mesin cuci, kulkas, televisi, dan yang lainnya selalu saja ada sisi inovasi yang diberikan oleh industri di Jepang kepada konsumen mereka.

Sehingga sangatlah wajar bila berbagai produk yang mereka keluarkan mampu menjadi pionir dan merajai berbagai segmen pasar di dunia.

8. Hardwork

Masyarakat yang ada di Jepang sangat pekerja keras atas apapun pekerjaan yang mereka geluti. Bahkan rata-rata jam kerja yang dimiliki oleh masyarakat Jepang mencapai 2.450 jam per tahunnya. Jumlah tersebut sangat tinggi dan mengalahkan rata-rata dari jam kerja masyarakat di Amerika yang sebesar 1.957 jam per tahun dan inggris dengan 1.911 jam per tahunnya.

Kalian yang sering mengeluh lelah dan letih saat bekerja sangat  perlu menggaris bawahi bagian ini.

9. Menambah Pengetahuan Dengan Membaca

Membaca dapat menambah pegetahuan kalian, jadi jangan pernah sia-siakan kesempatan membaca dimana pun kalian berada.

Lihatlah apa yang dilakukan masyarakat Jepang saat mereka berada di dalam kereta listrik. Sebagian besar penumpangnya terlihat sedang membaca buku, baik itu anak-anak ataupun orang dewasa.

10. Bekerja Sama

Agar mampu berhasil dan sukses, kerja sama sangat kalian perlukan dan bekerja secara individu tidak direkomendasikan sama sekali.

Hal tersebut dikarenakan dengan bekerja sama dengan banyak orang kekuatan kalian akan berkali lipat dibandingkan dengan bekerja seorang diri. Ide dan juga gagasan kreatif akan lebih banyak bermunculan pada saat lebih banyak orang yang bekerja sama dalam suatu proyek.

11. Lebih memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi

Meskipun harga kendaraan yang ada di Jepang relatif murah, akan tetapi warga Jepang enggan menggunakan kendaraan pribadi dan lebih memilih naik transportasi publik. Hal tersebut disebabkan bila seseorang membeli kendaraan, maka dia harus memiliki lahan parkir atau menyewa lahan parkir yang ada dengan harga yang relatif mahal. Selain itu pajak yang tinggi juga dapat membuat warga Jepang enggan untuk menaiki kendaraan pribadi.

Kebiasaan Masyarakat Negara Jepang 1

12. Tidak berisik di dalam transportasi publik

Mengobrol santai di dalam transportasi umum atau bahkan menerima telepon dengan suara yang mampu di dengar satu gerbong kereta mungkin sering kita jumpai di Indonesia. Tetapi, pada saat kamu berada di dalam transportasi publik di Jepang akan sangat terasa kesan sunyi, padahal jumlah orang yang ada di dalam sangat penuh layaknya ikan sarden yang berada di dalam kaleng.

Hal tersebut sebab orang Jepang tak ingin mengganggu ketenangan umum, jika ponselnya berbunyi mereka akan langsung menolak panggilannya atau berbicara sebentar menjelaskan bahwa mereka sedang berada pada transportasi umum.

13. Sangat menjaga kebersihan

Bukan hal yang lumrah melihat sampah berserakan di jalanan di Jepang. Justru akan sangat sulit untuk menemukan tempat kotor yang banyak sampah disana. Di Jepang membuang sampah pada tempatnya telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Kalau kamu berkunjung ke Jepang kamu akan sedikit kesulitan menemukan tempat sampah, walaupun sulit tetap tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Masyarakat akan membawa sampah mereka sampai mereka pulang ke rumah.

Ini adalah yang dilakukan masyarakat Jepang dalam keseharian mereka dengan mengesampingkan sikap individual dalam hidup mereka.

Kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Jepang diatas dapat kalian tiru dan coba lakukan secara perlahan-lahan. Kesuksesan bisa diraih dengan perubahan kecil dan bertahap yang dilakukan secara terus menerus.

Continue Reading →

Kota Kanazawa Yang Terdapat Di Negara Jepang

Kota Kanazawa Yang Terdapat Di Negara Jepang – Sebagai sebuah Ibu Kota Perfectur Ishikawa, Kanazawa tentunya mempunyai warna-warni kesibukan warganya. Akan tetapi di tengah hal tersebut kekayaan budaya masih terjaga dan menjadi destinasi wisata hingga saat ini. Bak batu permata, inilah Kanazawa, ketika ‘tua’ bertemua dengan ‘muda’.

Terdapat yang berbeda ketika menapakan kaki di Kanazawa, kota yang masuk Distrik Hokuriku, sebelah barat daya Pulau Honshu. Kota ini mempunyai curah hujan tinggi di seantero Jepang. idn slot

Walau sebuah kota, budaya Jepang zaman dulu masih terlihat jelas di kota ini. Seperti kotanya para Samurai, Geisha, dan juga beragam budaya yang turut membangun Kanazawa.

“Kami menyebutnya Jepang yang autentik,” kata Yoshiko Tomiyama #tourguideyoshi, pemandu wisata saya selama menjelajah rute perjalanan “Three Star Road” atas undangan pemerintah Jepang dan Meitetsu World Travel, 9-20 Januari 2020, saat berada di Kanazawa, Jumat 18 Januari 2019.

Syahdan, Lord Maeda yang merupakan bagian dari Klan Kaga memerintah pada 1603-1868 pada Zaman Edo, zaman di mana perang saudara masih bergejolak di Jepang. Daerah satu dengan lainnya saling berebut ekspansi kekuasaan, saling berseteru dan membunuh. Klan Kaga sendiri juga disebut sebagai ‘Sejuta Koku Beras’ atau Hyakumangoku. Koku ialah jumlah beras yang diproduksi untuk bertahan satu tahun untuk satu orang.

“Artinya banyak rezeki,” ucap Yoshi bercerita.

Klan Kaga juga termasuk orang yang terpandang kala itu. Mereka tercatat sebagai orang yang terkaya kedua mengalahkan empire yang ada di Tokyo. Kekayaan Maeda inilah yang lalu dia gunakan untuk membangun kekuatan militer di Kanazawa, yaitu Samurai.

Kota Kanazawa Jepang

Tokyo yang merasa terancam dengan aktivitas militer terus memata-matai Maeda. Maeda pun berstrategi agar apa yang disaksikan Tokyo tidak terlalu kentara.

“Salah satunya adalah dengan membayar pajak kepada Tokyo,” kata Yoshi yang juga Sake Sommelier.

Tidak itu saja, untuk membungkus kekuatan militer yang dia bangun agar tidak terlalu bau terendus ke luar, maka Maeda banyak membuat aktivitas-aktivitas budaya di Kanazawa.

“Sehingga jika Tokyo bertanya soal finansial dan kekuatan Samurai, maka akan dijawab dengan aktivitas-aktivitas budaya di wilayahnya. Terkesan bahwa Kaga Klan tak berniat memberontak apalagi menyerang Tokyo,” tutur Yoshi.

Budaya, Keramik, dan Pastry

Rupanya apa yang dilakukan oleh Maeda berjejak hingga pada saat ini. Nuansa kentalnya budaya baheula masih sangat terasa walau dikepung kemajuan zaman dan teknologi. Buah pemikiran budaya Maeda itu saat ini dilestarikan pemerintah setempat menjadi salah satu objek pariwisata.

Ini dapat dilihat dari beberapa spot pembangunan kota oleh Lord Maeda. Beberapa diantaranya adalah pembuatan keramik, kerajinan kertas emas, pertunjukan Geisha, pastry dan hidangan laut.

“Samurai punya budaya minum teh, oleh sebab itu diperlukan peralatan minum seperti keramik. Nah, agar tidak terlalu pahit perlu dibuatkan peganan atau pastry. Pastry Kanazawa adalah sangat terkenal di Jepang,” ujar Yoshi.

Salah satu pastry terbaik terletak tak jauh dari kediaman Nomura, seorang petinggi Samurai yang dibanggakan Lord Maeda. Tokonya yang bernama Murakami, mirip novelis kenamaan dari Jepang, Haruki Murakami. Tapi yang pasti, toko pastry ini tidak ada sangkut paut dengan sang Novelis yang kerap digadang-gadang para Harukis mendapatkan nobel sastra. Adapun lokasinya di Nagamachi Samurai Distrik.

Adapun rumah Nomura saat ini menjadi tujuan wisata para wisatawan untuk mengenal bagaimana para Samurai hidup. Harga tiketnya bervariasi. Untuk dewasa dipatok dengan 550 yen per orang, usia 15-17 tahun 400 yen per orang, dan anak 7-14 tahun cukup 250 yen.

Ketika memasuki rumah tersebut, baju zirah khas Samurai terpajang di dalam etalase sudut dekat pintu masuk . Tertera keterangan mengenai baju sang Samurai Nomura.

Minum Teh ala Samurai

Lalu bisa menyaksikan berbagai macam ruang dengan fungsi berbeda. Misal ruang untuk para tamu, ruang Gaban atau prajurit kerajaan, ruang berdoa, dan yang paling-paling atraktif adalah ruang minum teh yang biasa digunakan Nomura untuk menerima tamu dan minum teh.

“Di ruang teh ini tak ada kelas, siapapun masuk ke sini tidak boleh membawa senjata ke dalam ruang minum teh. Pintu masuk dibuat rendah agar menunjukan semuanya sama dan memberi hormat,” tutur Yoshi.

Teh atau matcha tersedia pada ruang lantai dua dan menghadap taman asri empunya rumah. Satu gelas matcha dan sebatang manisan dihargai 300 yen. Lalu akan diajarkan bagaimana cara meminum teh ala Samurai. Begini caranya: “Teh diangkat dengan tangan kanan dan diletakan di tangan kiri, sebelum diminum outar searah jarum jam dua kali,” ujar petugas pelayan teh Rumah Nomura, Sabtu 18 Januari 2020.

Teh diminum perlahan. Sampai hirupan terakhir, hirup sampai berbunyi. Itu artinya anda menikmati teh dan minta ditambah satu gelas lagi. Setelah habis, hapus bekas bibir di gelas keramik dengan jempol dan telunjuk. Lalu putar arah berbalik jarum jam dua kali.

“Letakan gelas perlahan ke tempatnya. Telapak tangan kita di lantai sejajar dengan lutut dan kita bisa mengintip perlahan kiri dan kanan keindahan gelas keramik tuan rumah yang memberi teh,” tutur perempuan setengah baya itu.

Jangan keasyikan untuk duduk lama di ruang minum teh, karena masih banyak pengunjung yang ingin menikmati sensasi minum teh ala Samurai.

Kota Kanazawa Jepang 1

Bergaya dengan Kimono

Belum lengkap bila tidak mencoba Kimono layaknya Samurai. Di Kanazawa terdapat beberapa penyewaan Kimono. Ada yang penyewaan Kimono kualitas bagus yang ada di Kaga Yuzen, di Koshomachi 8-8. Harga termurah adalah 2000 yen dengan syarat Kimono hanya digunakan di dalam gedung dan anda akan berfoto dengan latar yang berbeda. Atau, ke luar gedung selama satu jam dengan Kimono dan dipatok dengan harga 4,500 yen. Bila tiga jam makan akan dikenakan biaya 6 ribu yen.

Sementara memilih untuk memakai Kimono hanya di dalam gedung. Alasannya, cukup mahal bila menggunakan Kimono 3-4 jam di luar. Apalagi musim dingin, dan tidak efektif bila ingin mengejar spot-spot Kanazawa lainnya yang akan dijelajah.

Pertunjukan Ekslusif Geisha

Terakhir penutup penjelajahan di Kanazawa adalah beruntung dengan sangat mendapat slot untuk menyaksikan pertunjukan para Geisha. Harganya sangat lumayan untuk sebuah pertunjukan langka dan ekslusif, yaitu 5 ribu yen untuk 45 menit pertunjukan.

Seperti biasa, teh dan kue manis menjadi sajian pada saat itu. Ada sekitar 15 penonton lainnya yang ikut menyaksikan pertunjukan Geisha di Kanazawa Geigi.

“Tidak semua orang yang punya uang bisa menyaksikan ini, yang punya pertunjukan akan menyeleksi siapa yang bisa menyaksikan (pertunjukan),” kata Yoshi.

Terdapat lima Geisha yang sudah menunggu. Karena tersasar, kami adalah tamu paling akhir yang ditunggu untuk memulai pertunjukan Geisha. Pertunjukan dibagi dalam dua tiga babak, yang terakhir adalah kegiatan atraktif dengan para penonton.

Sebelum dimulai, pihak manajemen memberikan selembaran kertas yang dilaminating mengenai aturan pertunjukan. Yaitu, hanya boleh memfoto di babak kedua serta perjanjian tidak boleh mem-posting aksi panggung para Geisha di media sosial.

“Agar pertunjukan tetap ekslusif,” kata Yoshi.

Geisha untuk sebagian orang dipandang negatif. Akan tetapi sebenarnya mereka adalah penghibur kesenian untuk keluarga raja. Mereka dipilih secara ketat dan juga dididik agar menjadi Geisha yang punya ilmu seni yang tinggi.

“Mereka ialah superstar pada zamannya, karpet merah dan privasi yang ditutup rapat,” beber Yoshi.

Lantas, mengapa tidak semua orang bisa menyaksikan Geisha?

“Karena ini bukan soal uang, tapi pribadi mereka yang akan menonton. Geisha itu profesional, mereka tidak boleh disentuh, mereka adalah seniman,” kata Yoshi.

Continue Reading →

Pekerja Yang Ada di Jepang Tidak Suka Cuti dan Hari Libur

Pekerja Yang Ada di Jepang Tidak Suka Cuti dan Hari Libur – Warga Jepang tidak hanya dikenal sangat disiplin dalam berbagai hal, tapi juga gila kerja. Karenanya, ‘cuti’ dan juga ‘hari libur’ menjadi kata tabu, bahkan dibenci oleh mereka, terutama oleh para pekerja.

Mengambil cuti bukan hal yang umum bagi para pekerja di sana. Contohnya pada baru-baru ini, masyarakat Jepang dibuat heboh sebab Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi mengambil cuti. slot online indonesia

Hal tersebut dia lakukan saat mengumumkan kelahiran putranya. Shinjiro memutuskan untuk mengambil hak cuti ayah pada tanggal 17 Januari 2020.

Ia mengambil cuti selama dua minggu sesudah sang istri melahirkan. Keputusan tersebut menjadi sorotan di dunia, terutama pada masyarakat Jepang, karena ia ialah pejabat publik pertama yang mengambil cuti ayah.

Shinjiro mengakui bahwa keputusan mengambil cuti adalah topik sensitif di Jepang karena memiliki kelebihan dan kekurangan.

“Ini ialah pertama kalinya bagi seorang menteri mengambil cuti dan pada setiap kali Anda melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kritik selalu melekat,” katanya. Pada 22 Januari 2020, masyarakat Jepang paling anti mengambil cuti, bahkan mereka akan protes saat diberi jatah libur.

BBC pernah mewawancarai para pekerja Jepang mengenai cuti. Sebagian besar dari mereka mempunyai alasan yang sama, yaitu saat ambil cuti, khawatir akan jadi bahan omongan dan nama, serta reputasi mereka jadi jelek.

Manajer dari salah satu restoran yang ada di Jepang, tepatnya di Prefektur Gunma, Tsuyoshi mengaku tak pernah memeriksa daftar cuti yang diajukan para karyawan. Apalagi, dia tak pernah mengambil cuti.

“Kalau ada yang cuti, rekan-rekan kerja akan berpikiran negatif. Di sini, Anda akan dinilai lebih tinggi bila bekerja keras dan tidak pernah cuti,” tuturnya.

Pekerja Yang Ada di Jepang Tidak Suka Cuti dan Hari Libur

Mengapa bisa begitu?

Dilansir dari detikcom dari berbagai media Jepang dan BBC yang pernah mengulas artikel How the Japanese are putting an end to extreme work weeks, masyarakat Jepang paling anti ambil cuti. Jangankan itu, dikasih hari libur lebih malah protes.

Pada awal tahun 2019 kemarin di bulan April contohnya, pemerintah Jepang menyetujui memberikan hari libur tambahan bagi warganya selama 10 hari. Itu terkait dengan kenaikan kaisar baru, Naruhito.

Hari libur tambahan tersebut digabung dengan hari libur nasional Golden Week. Golden Week merupakan gabungan dari empat hari libur yang berdekatan dan kemudian dijadikan dalam satu waktu. Di bulan April sampai dengan bulan Mei jadinya terdapat 4 hari libur yaitu Showa Day (29 April), Hari Konstitusi (3 Mei), Greenery Day (4 Mei) dan Hari Anak (5 Mei).

Nyatanya, orang Jepang malah tak suka dan protes sebab diberi hari libur tambahan tersebut. Sebuah survei dari koran Asahi Shimbun mengungkapkan, 45 persen orang Jepang tidak suka dengan hari libur yang diberikan itu dan hanya 35 persen yang senang.

Budaya ‘gila kerja’ memang sudah merekat bagi masyarakat Jepang. Makanya, ketika Menteri Lingkungan Jepang mereka ambil cuti, masyarakatnya jadi geger.

Menurut angka dari pemerintahan Jepang, hanya 52% pekerja yang mengambil cuti tahunan dalam setahun. Jepang punya cuti tahunan yang berjumlah 20 hari. Tapi dari angka 52% itu tadi, mereka hanya mengambil setengah dari cuti tahunannya!

Perusahaan perjalanan Expedia pernah menyebar survei untuk para pekerja Jepang yang hanya mengambil setengah dari cuti tahunannya itu. Hasilnya adalah 58% dari mereka terpaksa mengambil cuti tahunan dan setelahnya merasa bersalah. Sisanya 43%, menyatakan mendapat dukungan dari pimpinan perusahaan untuk mengambil cuti.

BBC pernah mewawancarai para pekerja Jepang perihal cuti. Kebanyakan dari mereka punya alasan yang sama, bila ambil cuti nanti diomongin sama orang lain dan namanya jadi jelek!

“Saya tak ingin manajer mengatakan hal buruk tentang saya karena saya mengambil cuti. Lebih mudah untuk bekerja daripada mereka mengatakan hal-hal buruk tentang saya,” kata Hideyuki, salah seorang insinyur yang bekerja di perusahaan teknologi di Tokyo.

Pada tahun 2019 kemarin, Hideyuki mencatat rekor mengambil cuti terbanyak dalam pekerjaannya. Dia mengambil cuti 3 hari dalam 1 tahun.

“Satu hari pada bulan April untuk upacara pendaftaran sekolah putri saya dan dua hari di bulan November. Itu adalah cuti paling banyak yang pernah saya ambil,” terangnya.

Manajer salah satu restoran di Prefektur Gunma yang bernama Tsuyoshi mengaku tidak pernah memeriksa daftar cuti yang diajukan dari karyawannya. Apalagi dia tak pernah mengambil cuti.

“Pada saat ada yang cuti, rekan-rekan kerja akan berpikiran negatif. Di sini, Anda akan dinilai lebih ‘tinggi’ bila bekerja keras dan tidak pernah cuti,” terangnya.

Nyatanya, budaya ‘gila kerja’ juga menjadi masalah yang ada di Jepang. Dimulai tahun 1970-an, ada sebutan bernama ‘Karoshi’. Artinya adalah kematian yang terjadi akibat terlalu banyak kerja. Angka kematian untuk hal itu pun sudah banyak.

Pemerintah Jepang sebenarnya tidak menutup mata terkait budaya ‘gila kerja’ dan ‘benci cuti’. Itu dinilai sudah jadi masalah nasional!

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe sejak tahun 2018 kemarin membahas Work Style Reform Bill alias rancangan undang-undang tentang kehidupan ketenagakerjaan. Terdapat 8 poin yang beberapa di antaranya seperti, penetapan jam lembur, batas jam kerja, dan pemaksaan cuti.

Pada sisi lain, adanya kelompok pekerja berumur muda dan tua juga dinilai menjadi masalah. Sebuah penelitian di Jepang menyebutkan, 62% dari pekerja muda (maksimal usia 34 tahun) merasa cutinya dirampas oleh para pekerja seniornya.

Usut punya usut, rupanya para pekerja yang berusia lebih dari 50 tahun memang tak menyukai dengan cuti. Karena, mereka masih menganut paham ‘gila kerja’ yang diwarisi oleh para pendahulunya.

“Sejak Periode Showa (1926-1989), filosofi kehidupan saat itu adalah para pria mengabdi kepada perusahannya dan istrinya tinggal di rumah untuk mengurus segala kebutuhan. Pekerjaan bagi para pria adalah yang nomor satu, makanya mereka sangat giat untuk bekerja sampai tak memikirkan cutinya,” ujar Ono, profesor dari Universitas Hitotsubashi.

Pekerja Yang Ada di Jepang Tidak Suka Cuti dan Hari Libur 1

Budaya ‘gila kerja’ yang ada di Jepang setidaknya sedang diubah pelan-pelan. Salah satunya melalui  salah satu menterinya yang berani ambil cuti dan pemerintah Jepang yang ingin para pekerjanya tidak sampai kehilangan nyawa gara-gara kerjaan yang terlalu berat.

Orang-orang di Jepang pun diharapkan pelan-pelan mungkin akan menghargai (dan mengambil) cutinya.

Jadi Masalah Nasional

Budaya gila kerja telah jadi masalah besar di Jepang. Sejak pada tahun 70-an, ada sebutan Karoshi, yaitu kematian yang terjadi akibat terlalu banyak kerja. Karenanya, kebiasaan ini telah dinilai jadi masalah nasional oleh Pemerintah Jepang.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah membahas Work Style Reform Bill atau rancangan undang-undang mengenai kehidupan ketenagakerjaan sejak pada tahun 2018 . terdapat delapan poin, termasuk di antaranya penetapan jam lembur, batas jam kerja, dan pemaksaan cuti.

Sebuah penelitian yang ada di Jepang menyebutkan bahwa banyak pekerja muda, maksimal usia 34 tahun, merasa hak cutinya dirampas oleh para pekerja senior.

Sesudah ditelusuri, ternyata pekerja berusia lebih dari 50 tahun memang tidak suka dengan cuti. Sebab, mereka masih menganut paham gila kerja yang diwarisi para pendahulu.

Budaya gila kerja yang ada di Jepang setidaknya mulai pelan-pelan diubah. Keputusan Shinjiro berani untuk mengambil cuti karena istrinya melahirkan diharapkan bisa jadi contoh dan langkah awal yang bagus. Pemerintah Jepang tentu ingin para pekerjanya tak sampai kehilangan nyawa karena bekerja terlalu keras.

Continue Reading →