Kota Kanazawa Jepang

Kota Kanazawa Jepang – Sebagai sebuah Ibu Kota Perfectur Ishikawa, Kanazawa tentunya mempunyai warna-warni kesibukan warganya. Akan tetapi di tengah hal tersebut kekayaan budaya masih terjaga dan menjadi destinasi wisata hingga saat ini. Bak batu permata, inilah Kanazawa, ketika ‘tua’ bertemua dengan ‘muda’.

Terdapat yang berbeda ketika menapakan kaki di Kanazawa, kota yang masuk Distrik Hokuriku, sebelah barat daya Pulau Honshu. Kota ini mempunyai curah hujan tinggi di seantero Jepang.

Walau sebuah kota, budaya Jepang zaman dulu masih terlihat jelas di kota ini. Seperti kotanya para Samurai, Geisha, dan juga beragam budaya yang turut membangun Kanazawa.

“Kami menyebutnya Jepang yang autentik,” kata Yoshiko Tomiyama #tourguideyoshi, pemandu wisata saya selama menjelajah rute perjalanan “Three Star Road” atas undangan pemerintah Jepang dan Meitetsu World Travel, 9-20 Januari 2020, saat berada di Kanazawa, Jumat 18 Januari 2019.

Syahdan, Lord Maeda yang merupakan bagian dari Klan Kaga memerintah pada 1603-1868 pada Zaman Edo, zaman di mana perang saudara masih bergejolak di Jepang. Daerah satu dengan lainnya saling berebut ekspansi kekuasaan, saling berseteru dan membunuh. Klan Kaga sendiri juga disebut sebagai ‘Sejuta Koku Beras’ atau Hyakumangoku. Koku ialah jumlah beras yang diproduksi untuk bertahan satu tahun untuk satu orang.

“Artinya banyak rezeki,” ucap Yoshi bercerita.

Klan Kaga juga termasuk orang yang terpandang kala itu. Mereka tercatat sebagai orang yang terkaya kedua mengalahkan empire yang ada di Tokyo. Kekayaan Maeda inilah yang lalu dia gunakan untuk membangun kekuatan militer di Kanazawa, yaitu Samurai.

Kota Kanazawa Jepang

Tokyo yang merasa terancam dengan aktivitas militer terus memata-matai Maeda. Maeda pun berstrategi agar apa yang disaksikan Tokyo tidak terlalu kentara.

“Salah satunya adalah dengan membayar pajak kepada Tokyo,” kata Yoshi yang juga Sake Sommelier.

Tidak itu saja, untuk membungkus kekuatan militer yang dia bangun agar tidak terlalu bau terendus ke luar, maka Maeda banyak membuat aktivitas-aktivitas budaya di Kanazawa.

“Sehingga jika Tokyo bertanya soal finansial dan kekuatan Samurai, maka akan dijawab dengan aktivitas-aktivitas budaya di wilayahnya. Terkesan bahwa Kaga Klan tak berniat memberontak apalagi menyerang Tokyo,” tutur Yoshi.

Budaya, Keramik, dan Pastry

Rupanya apa yang dilakukan oleh Maeda berjejak hingga pada saat ini. Nuansa kentalnya budaya baheula masih sangat terasa walau dikepung kemajuan zaman dan teknologi. Buah pemikiran budaya Maeda itu saat ini dilestarikan pemerintah setempat menjadi salah satu objek pariwisata.

Ini dapat dilihat dari beberapa spot pembangunan kota oleh Lord Maeda. Beberapa diantaranya adalah pembuatan keramik, kerajinan kertas emas, pertunjukan Geisha, pastry dan hidangan laut.

“Samurai punya budaya minum teh, oleh sebab itu diperlukan peralatan minum seperti keramik. Nah, agar tidak terlalu pahit perlu dibuatkan peganan atau pastry. Pastry Kanazawa adalah sangat terkenal di Jepang,” ujar Yoshi.

Salah satu pastry terbaik terletak tak jauh dari kediaman Nomura, seorang petinggi Samurai yang dibanggakan Lord Maeda. Tokonya yang bernama Murakami, mirip novelis kenamaan dari Jepang, Haruki Murakami. Tapi yang pasti, toko pastry ini tidak ada sangkut paut dengan sang Novelis yang kerap digadang-gadang para Harukis mendapatkan nobel sastra. Adapun lokasinya di Nagamachi Samurai Distrik.

Adapun rumah Nomura saat ini menjadi tujuan wisata para wisatawan untuk mengenal bagaimana para Samurai hidup. Harga tiketnya bervariasi. Untuk dewasa dipatok dengan 550 yen per orang, usia 15-17 tahun 400 yen per orang, dan anak 7-14 tahun cukup 250 yen.

Ketika memasuki rumah tersebut, baju zirah khas Samurai terpajang di dalam etalase sudut dekat pintu masuk . Tertera keterangan mengenai baju sang Samurai Nomura.

Minum Teh ala Samurai

Lalu bisa menyaksikan berbagai macam ruang dengan fungsi berbeda. Misal ruang untuk para tamu, ruang Gaban atau prajurit kerajaan, ruang berdoa, dan yang paling-paling atraktif adalah ruang minum teh yang biasa digunakan Nomura untuk menerima tamu dan minum teh.

“Di ruang teh ini tak ada kelas, siapapun masuk ke sini tidak boleh membawa senjata ke dalam ruang minum teh. Pintu masuk dibuat rendah agar menunjukan semuanya sama dan memberi hormat,” tutur Yoshi.

Teh atau matcha tersedia pada ruang lantai dua dan menghadap taman asri empunya rumah. Satu gelas matcha dan sebatang manisan dihargai 300 yen. Lalu akan diajarkan bagaimana cara meminum teh ala Samurai. Begini caranya: “Teh diangkat dengan tangan kanan dan diletakan di tangan kiri, sebelum diminum outar searah jarum jam dua kali,” ujar petugas pelayan teh Rumah Nomura, Sabtu 18 Januari 2020.

Teh diminum perlahan. Sampai hirupan terakhir, hirup sampai berbunyi. Itu artinya anda menikmati teh dan minta ditambah satu gelas lagi. Setelah habis, hapus bekas bibir di gelas keramik dengan jempol dan telunjuk. Lalu putar arah berbalik jarum jam dua kali.

“Letakan gelas perlahan ke tempatnya. Telapak tangan kita di lantai sejajar dengan lutut dan kita bisa mengintip perlahan kiri dan kanan keindahan gelas keramik tuan rumah yang memberi teh,” tutur perempuan setengah baya itu.

Jangan keasyikan untuk duduk lama di ruang minum teh, karena masih banyak pengunjung yang ingin menikmati sensasi minum teh ala Samurai.

Kota Kanazawa Jepang 1

Bergaya dengan Kimono

Belum lengkap bila tidak mencoba Kimono layaknya Samurai. Di Kanazawa terdapat beberapa penyewaan Kimono. Ada yang penyewaan Kimono kualitas bagus yang ada di Kaga Yuzen, di Koshomachi 8-8. Harga termurah adalah 2000 yen dengan syarat Kimono hanya digunakan di dalam gedung dan anda akan berfoto dengan latar yang berbeda. Atau, ke luar gedung selama satu jam dengan Kimono dan dipatok dengan harga 4,500 yen. Bila tiga jam makan akan dikenakan biaya 6 ribu yen.

Sementara memilih untuk memakai Kimono hanya di dalam gedung. Alasannya, cukup mahal bila menggunakan Kimono 3-4 jam di luar. Apalagi musim dingin, dan tidak efektif bila ingin mengejar spot-spot Kanazawa lainnya yang akan dijelajah.

Pertunjukan Ekslusif Geisha

Terakhir penutup penjelajahan di Kanazawa adalah beruntung dengan sangat mendapat slot untuk menyaksikan pertunjukan para Geisha. Harganya sangat lumayan untuk sebuah pertunjukan langka dan ekslusif, yaitu 5 ribu yen untuk 45 menit pertunjukan.

Seperti biasa, teh dan kue manis menjadi sajian pada saat itu. Ada sekitar 15 penonton lainnya yang ikut menyaksikan pertunjukan Geisha di Kanazawa Geigi.

“Tidak semua orang yang punya uang bisa menyaksikan ini, yang punya pertunjukan akan menyeleksi siapa yang bisa menyaksikan (pertunjukan),” kata Yoshi.

Terdapat lima Geisha yang sudah menunggu. Karena tersasar, kami adalah tamu paling akhir yang ditunggu untuk memulai pertunjukan Geisha. Pertunjukan dibagi dalam dua tiga babak, yang terakhir adalah kegiatan atraktif dengan para penonton.

Sebelum dimulai, pihak manajemen memberikan selembaran kertas yang dilaminating mengenai aturan pertunjukan. Yaitu, hanya boleh memfoto di babak kedua serta perjanjian tidak boleh mem-posting aksi panggung para Geisha di media sosial.

“Agar pertunjukan tetap ekslusif,” kata Yoshi.

Geisha untuk sebagian orang dipandang negatif. Akan tetapi sebenarnya mereka adalah penghibur kesenian untuk keluarga raja. Mereka dipilih secara ketat dan juga dididik agar menjadi Geisha yang punya ilmu seni yang tinggi.

“Mereka ialah superstar pada zamannya, karpet merah dan privasi yang ditutup rapat,” beber Yoshi.

Lantas, mengapa tidak semua orang bisa menyaksikan Geisha?

“Karena ini bukan soal uang, tapi pribadi mereka yang akan menonton. Geisha itu profesional, mereka tidak boleh disentuh, mereka adalah seniman,” kata Yoshi.